Kegagalan yang Memotivasi

Kesibukan melayani pelanggan sudah menjadi rutinitas Yudi Kurniawan (34). Malam itu, tangannya tampak lincah saat mematut-matutkan bentukan kelapa muda, lalu memecah, dan menyajikan  kelapa muda hijau itu kepada pemesan. Mungkin sudah ribuan kali ia mengulangi aksi itu di depan pelanggannya.

Sudah sejak tiga tahun belakangan ini Yudi berjualan kelapa muda hijau (degan ijo). “ Sebelum ini, saya jatuh bangun mencoba segala hal,” ujarnya sambil melayani pembeli yang terus berdatangan.

“ Saya sempat merasakan kesuksesan di kota Malang beberapa tahun lalu. Namun, karena terjerat rentenir, usaha saya jatuh. Semua aset saya jual. Lalu, saya mengadu nasib di Maluku,” lanjutnya sambil tersenyum simpul.

Di Maluku, Yudi mengalami kegagalan serupa. Kegagalan yang memaksanya pulang ke Banyuwangi.

 

Menginspirasi

Tiada hal yang sia-sia. Kegagalan Yudi di Maluku justru memberikan inspirasi baru buatnya.

Kala ituYudi teringat kelapa muda di Maluku. Menyadari bahwa di sekitar rumahnya terdapat banyak perkebunan kelapa hijau, akhirnya ia memutuskan untuk membuka usaha deganijo di Banyuwangi. Usaha ini dirintisnya bukan hanya sebagai penghilang rasa haus, namun juga menjadi obat, seperti yang menjadi kebiasaan penduduk  Maluku.

Dengan menyewa pohon kelapa di perkebunan sekitar rumahnya, ia mulai merintis usaha barunya. “ Satu tahun pertama adalah masa-masa sulit bagi kami. Permintaan deganijosangat rendah,” ucapnya terbata-bata.

Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi UNTAG Banyuwangi tersebut menilai, pada saat itu ia salah menentukan lokasi untuk berjualan. Setelah sempat beberapa kali berpindah lokasi, akhirnya ia menemukan lokasi yang tepat, yaitu di Alun-alun Blambangan.

Permintaan deganijo di sana cukup tinggi. Yudi harus bolak-balik mengangkut deganijodengan vespanya. Yudi tidak berpuas diri di situ saja. Ia terus memikirkan bagaimana usahanya bisa tetap bertahan dan berkembang.

Saat itu, Yudi merasa membutuhkan sebuah kendaraan yang lebih memadai untuk mengangkut dagangannya. Akhir tahun 2011 impiannya terwujud. Ia membeli sebuah mobil. “Sekarang sudah ada mobil sendiri. Tidak perlu bolak-balik lagi. Untung CU Mandiri memberikan pinjaman pada saat yang tepat,” kenangnya.

Usaha Yudi yang semakin berkembang membuatnya ingin mencari lokasi yang lebih strategis lagi. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kini, ia berjualan di trotoar Jl. Dr. Sutomo. Jalanan ini tak pernah sepi oleh orang yang berlalu-lalang.

 

Berbagi

Yudi bertekad menularkan semangatnya pada generasi muda. Beberapa orang muda diajaknya belajar bekerja, mandiri, dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Salah satu yang dilakukan adalah merekrut dua siswa sebuah sekolah menengah kejuruan di Banyuwangi.

Bagi Yudi, sangat penting menanamkan jiwa kewirausahaan pada orang muda. Gayung bersambut! Mereka semangat menjawab tantangan Yudi.

Selain menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini, ia menggerakkan mereka untuk menyisihkan sedikit rupiah dari hasil mereka tiap harinya untuk ditabungkan di CU Mandiri. Yudi berharap, mereka dapat menikmati fasilitas CU Mandiri sebagaimana yang dialaminya.

Di tengah kesuksesan, Yudi tak mau jumawa. Ia pun enggan menyudahi mimpi.Toh mimpi itu milik semua orang.

“ Masih banyak yang saya mimpikan. Saya ingin mengembangkan usaha ini menjadi agrobisnis dan agrowisata. Selain sisi bisnisnya yang maju, saya juga bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih besar daripada apa yang ada sekarang ini,” ujarnya yakin.

(Kiky)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: