Ketika Nasib Anggota Bergelayut di Simpul Kejujuran

Modal utama mendirikan CU adalah rasa saling percaya. Orang percaya, lalu menyimpan uangnya di CU. Orang juga dengan mudah mengambil dananya sewaktu-waktu. Namun, ketika CU berjalan sekian tahun, ada perubahan yang terjadi. Yang tadinya begitu mudah menarik dananya, kini menjadi berbelit dan harus menunggu sekian jam atau bahkan esok harinya. Padahal, jumlah yang ditarik tidak seberapa.

Ada kejadian lain. Sebuah CU memperkerjakan seorang voluntir. Ia tak mau digaji, cuma mau “membantu”. Di zaman sekarang, masih adakah seseorang yang mau bekerja tanpa upah juga ketika situasi ekonominya morat-marit? Bila seorang pengurus memperkerjakan orang demikian, maka jangan heran jika sedikit demi sedikit uang yang harusnya masuk sebagai simpanan anggota itu melayang entah ke mana. Siapa yang harus disalahkan?

Indikasi di atas adalah awal kehancuran sebuah CU yang sedikit demi sedikit telah menggeser sebuah kepercayaan menjadi penyalahgunaan. Dampak dari itu bukan hanya anggota yang dirugikan, tapi citra CU yang demikian juga mencemarkan CU yang lain. Lalu, apa yang perlu dibangun sebelum kehancuran CU terjadi? Semangat dan nilai apa yang diperlukan?

Saling percaya

Untuk mulai mengurai persoalan yang tampil pada ilustrasi di atas, ada baiknya jika awal sekali kita menggali makna dasar istilah “credit union”. Credit Union berasal dari dua kata berbahasa Latin: credit dan union. Istilah credit dari kata kerja credere, artinya percaya, mempercayai. Sedangkan union adalah unio, artinya kesatuan, kumpulan. Jadi, Credit Union artinya kesatuan atau kumpulan orang-orang yang saling percaya.

Dari makna kata ini lalu muncul kejelasan, kumpulan orang-orang (bukan kumpulan uang) yang saling percaya tersebut tidak lain adalah para anggota CU itu sendiri. Orang yang bergabung dalam CU disebut anggota, sekaligus pemilik.

Sikap saling percaya menjadi syarat utama membangun CU. Jika terdapat satu saja dari anggota, pengurus, pengawas, atau manajemen yang bersikap “tidak percaya” atau “tidak bisa dipercaya”, maka rusaklah sistem CU tersebut.

Akibatnya, ketidakjelasan nasib seluruh anggota menjadi taruhannya.

Ibaratnya, CU itu seperti tubuh manusia. Ketika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota atau bagian lain dari tubuh tersebut juga akan merasakan dampak sakit yang serupa. Sistem dan fungsi ketubuhannya akan terganggu, rusak, dan mati.

Bisnis kepercayaan

Pengelolaan keuangan CU Mandiri sangat memperhatikan dua sisi utama, yaitu transparansi dan akuntabilitas. “Inilah bentuk tanggung jawab kami kepada anggota sebagai pemilik yang telah mempercayakan pengelolaan uangnya kepada kami,” tutur Ketua Pengurus CU Mandiri, Dwi Yosephine Astuti.

Sistem keuangan yang transparan dan akuntabel berarti bahwa tata kelola keuangan tersebut memiliki sistem yang terbuka dan bertanggung jawab. Sistem tersebut setiap waktu bisa diperiksa oleh yang berwenang, sehingga anggota bisa mendapatkan informasi yang benar dan tepat tentang keadaan sebenarnya.

Tata kelola yang terbuka (transparan) dan bertanggung jawab (akuntabel) menjadi syarat utama adanya sikap “percaya” dari segenap elemen. Sistem tata kelola tersebut sejalan dengan salah satu karakter yang hendak dibangun CU Mandiri demi mencapai target 2013, yakni citra lembaga yang berkualitas (the qualified brand image). Karakter yang dimaksud adalah “jujur”.

Jujur tak cukup hanya diartikan sebagai sikap tidak mencuri atau tidak berbohong. Lebih dari itu, jujur menjadi sikap diri seseorang yang berpikir, berbicara, serta bertindak secara benar dan tepat. Dari sikap jujur inilah muncul sikap saling percaya.

Bermula dari pemahaman tersebut, General Manager (GM) CU Mandiri, Sr. Linda, SPM, berani menyebut bisnis CU Mandiri sebagai bisnis kredibilitas, bisnis kepercayaan.

“Jika Credit (Union) itu berasal dari makna kata credere yang artinya mempercayai, maka orang-orang yang menjalankan bisnis CU Mandiri mestilah orang-orang yang memiliki kredibilitas tinggi. Mereka haruslah pribadi-pribadi yang percaya dan bisa dipercayai,” tegas GM yang telah memimpin CU Mandiri selama enam tahunan ini.

Agar bertahan

Akhirnya, mengertilah kita bahwa tata kelola yang jujur, terbuka, bisa dipercaya, dan bertanggung jawab yang diberlakukan dalam lembaga CU bukan semata-mata ditujukan demi mengejar keuntungan ekonomis. Akan tetapi, prioritas kesejahteraan hidup anggota mesti juga dibarengi dengan upaya peluhuran nilai-nilai kemanusiaan anggotanya.

“Ibaratnya, CU Mandiri itu seperti manusia. Jika seorang manusia memiliki kebiasaan bersikap jujur, maka dalam keseharian ia akan menjalani hidup dengan tenang hingga akhir hayat,” urai Lucia Suprapti (58). Jika kejujuran menjadi yang utama dalam praktik pengelolaan CU Mandiri, lanjut anggota TP Probolinggo ini, bukan hal tidak mungkin lembaga ini akan bertahan sepanjang masa.
“Sebaliknya, jika ada satu saja yang berulah, maka semua akan terkena petakanya,” pungkasnya.

Yovie

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: